Hujan, itu antara momen indah aku. Daripada sekalian memori yang kukumpul menjadi rantaian tak berpenghujung. Bagiku, hujan itu adalah satu makhluk Tuhan yang tak pernah jemunya menghikayatkan kisah-kisah syurga, buat aku terus tegar menjalani kehidupan. 

Iya, banyak sekali yang Tuhan ajarkan padaku lewat hujan. Misalnya hujan yang tetap dalam setianya melangsaikan tugas membawa rahmat Tuhan turun ke tanah bumi. Walau hujan tahu persis dia bakal berhadapan dengan kondosi-kondisi sulit berupa cercaan oleh manusia. Tapi, terbuktinya hujan masih tetap utuh. Maha Suci Allah, betapa akurnya hujan sebagai hamba dalam menurut tanpa sedikitpun keluhan. Dan barangkali karena taatnya hujan itulah yang bikin seluruh jiwaku merasa hampir pada-Nya terlebih saat halus seninya mulai menari-nari di kaca jendela.  Sambil dalam satu detik mencium romantis baunya yang tergaul mesra bersama tanah. Benarlah, bila sesuatu itu punya keterikatan antara Tuhan maka yang mendekat juga akan bisa merasakan hal yang sama — nyaman. 

Sebenarnya aku punya impian tentang hujan. Yang masih belum juga terlaksana hingga saat sekarang. Itu, Teringin sekali berbasah kuyup dalam getarannya, berlari-lari anak sambil bicara bersamanya tentang apa saja kecintaanku. Walau aku mengerti hujan takkan bisa ikut bicara bersama tapi setidaknya dia tetap setia sebagai pendengar yang baik bukan? Siapa tahu barangkali, di saat hujan kembali ke atas mereka sedang kisahkan cerita aku di hadapan Tuhan. Ah, aku kerap membayang seperti itu.


Kau tahu? Ada karakter mulia yang aku suka amat pada hujan — titis-titisnya yang beribu bahkan berjuta sekalipun takkan pernah mencedera pada tangan yang menadah buat merasakan hadirnya. Jadi tanpa sedar sebenarnya kitalah yang telah menyakiti hujan dengan caci makian sejak awal titisnya lagi. Tapi, kerana dia makhluk yang taat tetap saja dibiarkan dengan sabar. 

Cuba saja kau membayang andai Tuhan membuka hijab lalu diperdengarkan suara-suara alam bergema? Aku jamin pasti zikrullah oleh alam memenuhi segala frekuansi udara di bumi. Siang tanpa mengira malamnya, pagi tanpa menunggu sorenya berterusan dalam gemaan zikirnya. Persis yang terakam dalam kalamullah, “Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (As Saff, 1). 

Astaghfirullah, jadi malu aku sebagai manusia. Hujan saja lebih mengingati Tuhannya sedang kita yang siuman dianugerahi akal masih terus-menerus hanyut beralasan untuk ibadat. Nah, begitu banyaknya dosa-dosa tak terkira manusia hatta membuka mulut buat seringan-ringan zikrullah pun teranggap berat.

Hujan, yang tak pernah mengenal arti lelah melunaskan peranan selayak hamba dalam mencintai Tuhan dengan sebenar cinta. Dari awal proses kejadianmu sebagai titis-titis wap yang terbang ke atas menjadi gumpalan suci awan putih, lalu detik tetap sampai merelakan diri terpisah kembali dan merubah semula kepada tetes-tetes yang turun ke bumi, sampai penghujung hayatmu hilang tanpa jejak terserap ke tanah. Aku kagum,  begitu sekali kagum bagaimana kau bisa menjalani proses-proses yang kuketahui menuntut luka dan air mata. Proses yang berulang-ulang sampai usia dunia berakhir.


Hujan, bisa ajari aku segalanya tentang kerendahan hati? agar bisa kupunya peribadi mulia kurang lebih sepertimu. 

Aku mohon, dengan tersangat.

 Hujan,  
 aku hanya ingin kau tahu pada saat akhiran hidupmu  
 bersemadi dalam tanah, terhapus jejak  

 Masih,  
 adanya aku yang selalu merindu segala kenangan  
 tentangmu yang takkan hilang, ditiup waktu

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...